INDAHNYA KEBERSAMAAN DALAM TMMD

IMG_1888DEMAK - Raut wajah masyarkat Trengguli di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Deamak tampak semringah, Rabu (04/05) Siang. Dia gembira menyaksikan jalan di kampungnya yang dulu jelek kalau lewat dan sekarang udah ada pembangunan di sana.

Keceriaan warga masyarakat itu beralasan. Sejak dulu sampai sekarang, warga hanya mampu membangun dengan penambahan dengan menggunakan tanas padas saja. Kalaupun hujan itupun sangat becek dan licin sehingga warga banyak yang putar balik kearah jalan lain.

Sejak itu, warga mengusulkan kepada aparat desa setempat untuk di bangun jalan betonisasi melalui program TMMD karena rakyat merasa lebih dekat dengan TNI.

Pada awal Maret Kodim 0716/Demak melakukan survey lokasi kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-96 Tahun 2016 di Desa Trengguli. Pengerasan jalan dengan betonisasi menjadi salah satu target program itu. Kepala Desa, tokoh masyarakat dan warga sempat ragu-ragu menanggapi rencana itu. Pasalnya warga hanya punya tenaga dan tanpa modal finansial. Namun, kekhawatiran itu sirna ketika Komandan Distrik Militer (Dandim) 0716/Demak, Letkol (Inf) Nanang T.T Wibisono S.A.P memimpin Satgas TMMD ke lokasi kegiatan fisik TMMD.

Seluruh warga gembira menyambutnya. Kehadiran Satgas TMMD,ibarat dewa penolong. Keceriaan tampak sekali di desa Trengguli, basis kegiatan TMMD.
Mereka mulai kerja bareng. Setiap hari, ratusan warga pria dan wanita dewasa hingga anak-anak usia sekolah bersama Satgas TNI bahu-membahu mengecor jalan.

Satgas TNI dinilai kepala Desa M.Subki, memberi banyak nilai positif kepada warga. Kehadiranya mereka di kampung tak hanya menghadirkan kenangan baru di Demak, akan tetapi mereka meninggalkan pesan moral tak ternilai yakni semangat kerja keras, gotong-royong, kebersamaan dan solidaritas.

“Tidak terbayangkan sebelumnya. Ternyata pekerjaan yang besar dan seberat apapun bisa diselesaikan dengan gotong-royong,” ujar M.Subki.

Kepala Desa terharu menyaksikan kebersamaan prajurit TNI dan warga. Kedekatan dan keakraban telah menjauhkan jarak dan cara pandang masyarakat terhadap korps berbaju loreng yang dianggap angker dan kasar.

Comments are closed.