BPBD Demak Gelar Rakor Menghadapi Bencana

BPBD DEMAKDEMAK – Saat ini Jawa Tengah pada umumnya dan Kabupaten Demak pada khususnya, sudah mulai memasuki musim penghujan. Prakiraan awal musim penghujan terjadi pada bulan September sampai dengan Oktober 2016, namun ternyata musim penghujan datang lebih cepat dibandingkan biasanya.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semarang, pada bulan September sampai dengan Oktober 2016 merupakan masa transisi atau peralihan musim. Sedangkan untuk puncak musim hujan di wilayah Jawa Tengah diperkirakan akan terjadi pada bulan Januari hingga Februari 2017. Sehingga patut diwaspadai curah hujan tinggi dalam waktu singkat, angin kencang, dan petir yang berpotensi menimbulkan bencana banjir maupun longsor di berbagai daerah, tak terkecuali di Kabupaten Demak.

Untuk menyikapi hal tersebut perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi sehubungan adanya beberapa ancaman bencana di wilayah Kabupaten Demak. Seperti halnya bencana banjir, tanah longsor, angin kencang/puting beliung yang merupakan kelompok bencana hidrometeorologi pada musim penghujan.

Demikian disampaikan Drs. Mudiyanto, MM, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan, saat membuka Rapat Koordinasi Menghadapi Musim Penghujan, Banjir, Tanah Longsor, dan Angin Puting Beliung Tahun 2016/2017 Kabupaten Demak, Selasa (18/10) di Gedung Bina Praja.

Acara tersebut dihadiri oleh para Kepala SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Demak, jajaran Kodim 0716, Polres Demak, dan relawan BPBD. Hadir sebagai narasumber yaitu Kasi Perencanaan Operasional Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Mujeri, ST., MT, Reni Krisningtyas dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semarang, dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, Drs. Anjar Gunadi, MPd.

“Dengan adanya beberapa ancaman bencana yang mungkin bisa terjadi di wilayah Kabupaten Demak pada musim penghujan ini, saya minta kepada semua pihak untuk bersatu padu melakukan langkah-langkah antisipasi. Termasuk apabila benar-benar terjadi bencana, resikonya bisa ditekan seminimal mungkin. Oleh karenanya melalui kegiatan ini diharapkan kita dapat mengevaluasi kekuatan daerah dalam menghadapi bencana, baik dalam hal kekuatan personil, peralatan/alat-alat rescue maupun evakuasi, sistem komunikasi serta logistik. Untuk itu, saya minta kepada jajaran SKPD terkait agar menyatakan kesiapan masing-masing,” kata Drs.Mudiyanto,MM.

Kesiapan pemerintah tidak akan ada artinya bila tidak ada kesiapan dari masyarakat sendiri. Untuk itu, diharapkan kedepannya ada program-program kegiatan yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten untuk menguatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Pola pikir pemerintah dan masyarakat diharapkan bisa berjalan sinergi.

Untuk dapat menumbuhkan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat saling bersinergi, sehingga pengurangan resiko bencana dapat ditekan hingga zero accident. ”Bencana memang tidak bisa dihindari. Namun setidaknya kita dapat mengantisipasi dan memberikan reaksi cepat melalui prediksi kepada masyarakat untuk meminimalisir jatuhnya korban,” tegasnya. (Media Center)

Comments are closed.