Kunker Ke Demak DPRD Sumedang Tertarik Grebeg Besar

DEMAK – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumedang tertarik dengan tradisi grebeg besar yang berlangsung setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijah saat Idul Adha. Hal itu terungkap saat lakukan Kunjungan Kerja (Kunker) di Demak terkait Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pemkab Sumedang tentang kebudayaan.
Pansus SPBS Kabupaten Sumedang Dr. Asep Sumaryana, M.Si. selaku ketua rombongan saat menyampaikan maksud dan tujuannya mengatakan, pihaknya melakukan kunjungan ke Demak bermaksud untuk study banding terkait kebudayaan. “Kami ingin membuat Sumedang menjadi pusat kebudayaan di Sunda, Sumedang puser budaya Sunda,” katanya.
Asep menegaskan bahwa pihaknya ingin menciptakan magnet agar masyarakat mampir ke Sumedang.
Rombongan yang berjumlah 13 orang tersebut diterima baik oleh Pemerintah Kabupaten Demak di Ghradika Bina Praja pada Jum’at (25/10).
Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Kesra Windu Sunardi, SH., MH menjelaskan, Demak memiliki wisata religi berupa masjid Agung dan makam sunan kalijaga. “Jumlah pengunjung wisata religi di Masjid Agung Demak terbanyak ke dua se-Jawa Tengah,” ungkap Windu.
Selain itu, lanjutnya, yang paling menyita perhatian masyarakat adalah sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak yaitu grebeg besar. Tradisi yang berlangsung setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijah atau Idul Adha tersebut dimeriahkan dengan karnaval kirap budaya yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak hingga ke Makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Kadilangu, jaraknya sekitar 2 kilometer dari tempat mulai acara.
Sekilas sejarah, windu menceritakan bahwa Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa,disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada. Untuk itu setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban kemudian diadakan Grebeg Besar Demak. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. (Humas Demak)

Bagikan