Aug 09

Wetlands Internasional Bangga Terhadap Pemkab Demak

DEMAK – Eastern Leyte Manager dari Wetlands Internasional Pilipina, Judah S. Aliposa yang merupakan ketua rombongan dari Wetlands Internasional Filipina dan Kenya dalam program partners for resilience mengaku bangga terhadap Pemerintah Kabupaten Demak atas upayanya dalam mengelola mangrove hingga menjadi obyek wisata yang sangat menarik di Demak. Hal itu disampaikan saat PMI Kabupaten Demak mengajak rombongan dari Filipina dan Kenya menuju ekowisata Reduksi (Rumah Edukasi silvovishery) yang berlokasi di desa Kedung Mutih Kecamatan Wedung Kabupaten Demak, Kamis (9/8).
Rombongan yang melakukan study banding di Demak selama dua hari tersebut tiba di Gedung Binapraja kemaren, Selasa (8/8) dan disambut baik oleh Kepala Bappeda Kabupaten Demak Drs. Taufik Rifa’i, M. Si. Saat ditemui di sela-sela acara Rifa’i mengatakan bahwa maksud kedatangan mereka adalah untuk study banding terkait penanggulangan bencana serta pengelolaan mangrove yang bermanfaat untuk menahan abrasi dan erosi di daerah pesisir Demak. “Tentu saja kami tidak sendiri, kami bersama dinas terkait antara lain Dinas Kelautan dan PMI Kabupaten Demak selalu siap mendampingi kegiatan mereka selama di Demak ini”, ungkapnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak Ir. Hari Adi Soesilo, M.Si menambahkan, kerusakan pantai yang sangat serius akibat abrasi yang terjadi di wilayah pesisir Demak mengakibatkan hilangnya areal pertambakan seluas 495,08 Ha dan menyebabkan sebanyak 500 jiwa harus pindah dari tempat tinggal mereka. Hal itulah yang menjadikan cambuk Pemerintah Kabupaten Demak untuk mengelola mangrove dengan sangat serius.
Seperti diketahui, lanjut Hari, Pemkab Demak dengan menggandeng PMI Kabupaten Demak yang didukung oleh Palang Merah Amerika (American Red Cross) dan United States Agency for International development (USAID) telah berhasil menangani abrasi yang terjadi di wilayah pesisir pantai Demak dengan cara rehabilitasi mangrove. Selain itu, pembuatan tanggul laut dan tol yang direncanakan dimulai bulan September 2018 juga diharapkan dapat menangani abrasi di Demak. “Tentu saja pemberdayaan masyarakat dimulai dari perencanaan, implementasi, evaluasi dan pemeliharaan menjadi kunci keberhasilan program ini”, jelasnya. (Humas Demak)