Produksi Jagung Di Demak Capai 160 Ribu Ton
>
>
Produksi Jagung Di Demak Capai 160 Ribu Ton

DEMAK – Pada tahun 2018, produksi jagung di Demak mencapai 160.136 ton. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (31/1). Ia menuturkan, pada tahun 2018 terdapat 24.739 Hektar lahan jagung yang tersebar di empat Kecamatan yaitu Karangawen, Guntur, Mrangen dan Sayung. “Diperkirakan setiap hektarnya mampu memproduksi jagung 7,5 ton,” kata Bowo.
Diakui Bowo, pihaknya telah berupaya memberikan bantuan benih jagung hibrida dari APBN 2018 kepada kelompok tani sebanyak 1075 hektar, APBD Prov 2018 sejumlah 175 hektar dan bantuan benih serta pupuk sebanyak 524 hektar untuk wilayah perhutani.
“Kami berharap dengan bantuan benih jagung ini, para petani tinggalkan menanam jagung unyil dan beralih ke jagung hibrida. Sehingga petani jagung Demak bisa memenuhi kebutuhan industri pakan ternak di tingkat regional dan sekala nasional,” ungkapnya.
Apabila Kementrian Pertanian RI melakukan import jagung, Bowo berharap agar tidak melebihi jumlah yang dibutuhkan. Selain itu waktunya juga jangan sampai bersamaan dengan panen raya jagung sehingga tidak mempengaruhi harga jual.
Pada tahun 2017, lanjut Bowo, dengan lahan seluas 26.392 Hektar produksi jagung yang dihasilkan mencapai 196.268 ton. Ini membuktikan produksi jagung pada tahun 2018 lebih rendah dari tahun sebelumnya. Namun petani sudah merasakan keuntungannya. Karena harga jual jagung hibrida saat ini kisaran Rp. 5.500 per Kg pipil kering.
“Kami tetap optimis kebutuhan jagung di Kabupaten Demak masih dapat dipenuhi. Ini karena melihat potensi panen jagung di Kabupaten Demak hingga saat ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan Heri Wuryanto menjelaskan, semangat menanam jagung di wilayah Demak sejalan dengan kebijakan gerakan tanaman padi, jagung dan kedelai yang dilakukan secara terus menerus melalui tiga srategi, yaitu, intensifikasi dalam budidaya, peningkatan indeks pertanaman (IP), dan perluasan areal tanam baru (PATB).
“Bahkan untuk peningkatan produksi dan konversi lahan, saat ini mulai diterapkan program tanam dengan sistem tumpang sari padi-jagung, padi kedelai, dan jagung-kedelai,” imbuhnya.
Dengan optimalisasi sumber daya lahan, lanjut Heri, optimalisasi sarana prasarana mendukung dan pemahaman nilai ekonomi, gerakan tanam jagung baik monokultur maupun tumpang sari dapat dilakukan sepanjang musim.  (Humas Demak)

Bagikan
Jam (Aktif) With JavaScript

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart