Pemkab Demak Terus Berupaya Tekan Penyakit Leptospirosis
>
>
Pemkab Demak Terus Berupaya Tekan Penyakit Leptospirosis

DEMAK – Kasus penyakit Leptospirosis di Kabupaten Demak dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini terus mengalami peningkatan. Penyakit yang diakibatkan oleh kencing tikus tersebut mulai membuat warga Demak kian resah. Hal itu membuat Pemerintah Kabupaten Demak bekerja ekstra cepat untuk mengatasi kasus penyebaran penyakit leptospirosis. Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Demak, diselenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Penanggulangan Leptospirosis di aula Dinas Pertanian dan Pangan, Selasa (29/1).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Demak Heri Winarno mengatakan, di tahun 2018 tercatat ada 92 kasus penyakit leptospirosos dan 24 dinyatakan meninggal. Di awal tahun 2019 ini tercatat sudah ada 5 pasien positif leptospirosis dan 1 pasien dinyatakan meninggal. “Sebenarnya, penyakit leptospirosis itu merupakan penyakit langka. Umumnya ditemukan di kota-kota besar dan mudah menular kepada manusia melalui kencing tikus,” jelasnya.
Namun, kata Heri, penularan leptospirosis lebih banyak disebabkan dari kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira. Tapi tidak semua kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira. Penularan leptospirosis itu bisa melalui luka. Misalnya, sesorang ada luka di bagian kaki dan bersentuhan dengan kencing tikus itu akan bisa langsung masuk ke aliran darah manusia. “Umumnya, gejala-gejela leptospirosis akan mengalami demam, nyeri dan pusing, tapi itu tingkat ringan, jika tingkat berat, bakteri itu akan menjalar dan merusak organ tubuh. Seperti, hati dan ginjal. Apabila sudah menjalar ke organ tubuh tentunya bisa menyebabkan kematian,” terangnya.
Heri menyatakan jika dalam sebuah lingkungan masyarakat terdapat penderita leptospirosis, dipastikan pekerjaannya berhubungan dengan lingkungan tikus. Maka harus segera diperiksa di Puskesmas terdekat. “Gejala lainnya masih banyak, tapi pada umumnya gejala yang dominan itu seperti itu,” ucapnya.
Lebih lanjut Heri menjelaskan, penyakit leptospirosis bisa mematikan dikarenakan penyakit ini menyerang organ dalam manusia, hingga mengganggu fungsi tubuh. Untuk itu, jika terlambat penanganannya dan dibiarkan, maka penyakit leptospirosis akan membuat manusia meninggal dunia. Oleh sebab itu, Ia mengimbau agar setiap manusia tetap bersikap waspada dengan membasmi tikus-tikus yang berada di setiap lingkungan masing-masing. “Jadi karena rata-rata tikus mengidap penyakit leptospirosis, maka tinggal menularnya saja ke manusia. Dimana pun tikus itu, bisa mengancam masyarakat,” tuturnya.
Diakuinya, Dinkes juga berupaya untuk terus mensosialisasikan biosafety dan biosecurity untuk petugas dan masyarakat yang memiliki hewan ternak. Melalui berbagai kerjasama dengan beberapa rumah sakit, Dinkes juga melakukan penguatan pencatatan dan pelaporan kasus penularan penyakit leptospirosis.
Heri menegaskan rencana tindak lanjut dalam pemberantasan leptospirosis yakni dengan mengadakan pertemuan lintas sektor tingkat Kabupaten penanggulangan P2 leptospirosos, pertemuan tingkat kecamatan pengendalian P2 Leptospirosis dan melanjutkan kerjasama penelitian dengan B2P2VRP Salatiga. (Humas Demak)

Bagikan
Jam (Aktif) With JavaScript

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart