Aug 08

Keistimewaan Nabi Ibrahim AS

DEMAK – Pemerintah Kabupaten Demak menggelar Pengajian Rutin untuk karyawan dan karyawati, setiap hari Jumat di Minggu pertama di Masjid Al Huda Lantai 3 Gedung Wakil Bupati. Pengajian Minggu pertama di Bulan Agustus ini digelar Jumat Pagi (2/8) dan dihadiri oleh Staf Ahli Bupati, Asisten Sekda, Para Kepala Bagian, Kepala OPD dan PNS di lingkungan Setda Kabupaten Demak.
Ky. Rosyid dari Kecamatan Wedung dalam tausiahnya menyampaikan Nabi Ibrahim as. adalah Nabi yang Allah berikan keistimewaan yang besar. Dia adalah imam, ummah, hanif, orang yang tunduk (qanit) lillahi azza wa jalla. Seluruh Nabi dan Rasul setelahnya bernasab kepadanya. Dan seluruh penganut syariah (Islam, Nashrani, Yahudi) beriman kepadanya.
“Nabi Ibrahim juga merupakan nabi yang paling agung setelah Rasulullah saw. Karena itu Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa Dia menjadikannya sebagai Khalil (kekasih),” jelasnya.
Ia juga menyampaikan seluruh para nabi yang datang setelahnya adalah keturunannya dari kedua anaknya; Ishaq dan Ya’kub, kecuali Rasulullah saw yang merupakan keturuanan dari Ismail bin Ibrahim.
“Nabi kita Muhammad saw memiliki kekhususan dengan Ibrahim dibanding yang lainnya. Ibrahim as. adalah bapak bangsa Arab, dan dia merupakan bapak Rasulullah saw dari segi nasab. Nabi Ibrahim juga adalah Nabi yang Rasulullah saw diperintahkan untuk mengikuti millahnya (ajarannya),” katanya.
Karena Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapak bagi para Nabi, lanjutnya, maka Beliau juga adalah Bapak Tauhid. Sebab, semua Nabi menyeru umatnya untuk mentauhidkan Allah SWT. Dan Nabi Ibrahim menghadapi kaum yang menyembah berhala. Sama halnya dengan Nabi Nuh sebelumnya yang juga menghadapi kaum penyembah berhala.
Menurutnya, berhala yang diagungkan kaum Nabi Ibrahim adalah simbol dari benda-benda langit yang mereka buat berhala-berhalanya, melambangkan benda-benda langit itu, lalu mereka sembah. Sedangkan berhala yang disembah kaum Nabi Nuh adalah simbol orang-orang soleh, yang mereka buat patung-patungnya, kemudian mereka sembah.
Di lanjutkannya, dalam perjuangannya mengemban risalah tauhid, Nabi Ibrahim as menghadapi tantangan yang sangat berat. Wajar kemudian Beliau termasuk ke dalam salah satu Nabi Ulul Azmi. Beliau menghadapi Raja Namrudz yang kafir lagi kejam. Beliau juga menghadap kaum penyembah berhala yang punya ilmu tentang benda-benda langit. Kemudian Beliau juga menghadapi ayahnya Azar (sebagian menyebut namanya Tarikh) yang juga kafir dan pembuat berhala.
Di akhir tausiyah ia menegaskan bahwa bintang gemintang dan seluruh makhluk langit lainnya tidak layak disembah atau dijadikan sebagai sumber-sumber keyakinan dan acuan dalam menentuan nasib dan peruntungan. Seorang Mukmin harus tegas dalam menyikapi kesyirikan, tidak terlibat dalam peribadatan kepada selain Allah, ramal-meramal, perdukunan, dan memastikan bahwa dirinya dan keluarganya tidak jatuh ke dalam perbuatan syirik. Sebab dosa syirik tidak diampuni Allah sama sekali, kecuali dengan taubat yang sebenarnya taubat.
“Orang-orang yang memurnikan aqidahnya (tauhidnya) kepada Allah akan hidup dalam keamanan dan akan mendapat hidayah. Sebaliknya orang yang jatuh kepada perbuatan syirik, akan selalu dalam tidak aman, tidak nyaman, gelisah dan jauh dari hidayah,” pungkasnya. (Humas Demak)

Bagikan