Pentingnya Pengelolaan Medsos bagi ASN dalan Membangun Komunikasi Publik

DEMAK – Pakar Komunikasi Universitas Pasundan, Dhini Ardianti, menyampaikan pentingnya pengelolaan media sosial yang profesional, kredibel, dan responsif bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam membangun komunikasi publik yang efektif.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Seri Webinar #157 Dewan Pengurus KORPRI Nasional “KORPRI Menyapa ASN” dengan tema “ASN Content Creators Academy: Dari Birokrasi ke FYP, Bangun Kepercayaan Publik Lewat Medsos”, yang digelar secara daring, Kamis (30/4/2026).

Dalam pemaparannya, Dhini menjelaskan bahwa pengelolaan media sosial pemerintah harus berlandaskan enam prinsip utama, yakni kredibel, integritas, responsif, profesional, terintegrasi, dan keterwakilan. Menurutnya, konten yang disampaikan harus faktual, akurat, serta mencerminkan nilai dan etika institusi.

“Media sosial bukan sekadar sarana publikasi, tetapi juga ruang interaksi yang menuntut kecepatan respons dan kejelasan informasi kepada publik,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa masih banyak kesalahpahaman dalam pengelolaan media sosial ASN. Salah satunya anggapan bahwa semua platform memiliki karakter yang sama, padahal setiap platform memiliki audiens berbeda sehingga membutuhkan pendekatan konten yang berbeda pula.

Selain itu, Dhini menegaskan bahwa kualitas konten tidak hanya ditentukan oleh desain visual semata, melainkan harus relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia juga menyoroti pentingnya personal branding ASN sebagai bagian dari upaya humanisasi komunikasi publik.

“Publik lebih percaya pada sosok manusia dibandingkan sistem. Oleh karena itu, pendekatan yang humanis akan meningkatkan kepercayaan”, jelasnya.

Dalam menghadapi isu publik, ia menekankan bahwa sikap diam justru dapat menimbulkan ketidakpercayaan. Oleh sebab itu, diperlukan respons yang cepat, empatik, dan berbasis data.

Lebih lanjut, Dhini memaparkan pendekatan strategis I-Branding yang meliputi pemahaman terhadap kebutuhan audiens (understanding customer), komunikasi pemasaran yang positif, penyajian konten yang menarik dan terverifikasi, serta interaktivitas untuk mendorong diskusi publik.

Ia juga mengingatkan bahwa media sosial saat ini telah menjadi kanal utama komunikasi publik, bahkan berperan dalam membentuk citra institusi.

“Branding adalah janji, media sosial adalah tempat kita memberikan janji pelayanan. Kepercayaan publik lahir saat apa yang kita posting selaras dengan kemudahan yang mereka rasakan di kantor kita”, pungkasnya. (Red-kmf/apj).