Perkuat Penanganan TBC Resisten Obat, Dinkesda Demak Gelar Analisis Kohort Triwulan
DEMAK — Upaya pengendalian Tuberkulosis (TBC), khususnya kasus TBC Resisten Obat (RO), terus diperkuat oleh Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Demak melalui kegiatan Quarterly Interim Cohort Analysis (QICA) yang digelar di Aula Eks Keuangan Dinkesda Kabupaten Demak, Rabu (6/8/2025).
Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam mengevaluasi capaian program sekaligus mengidentifikasi berbagai tantangan di lapangan, khususnya dalam penanganan kasus TBC Sensitif Obat (SO) maupun TBC Resisten Obat.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) menegaskan pentingnya percepatan penemuan suspek hingga kasus positif TBC, baik sensitif maupun resisten obat.
Selain itu, proses enrollment atau masuknya pasien ke dalam pengobatan juga menjadi perhatian utama, mengingat keberhasilan terapi TBC sangat bergantung pada ketepatan dan keberlanjutan pengobatan.
“Penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan harus berjalan beriringan. Tanpa itu, upaya eliminasi TBC akan sulit tercapai,” tegasnya.
Kegiatan QICA diikuti oleh berbagai unsur pelaksana program, mulai dari:
- Kabid P2P
- Tim TBC Dinkesda
- 33 programmer TBC dari Puskesmas, Rumah Sakit, hingga RS PMDT
- Perwakilan MSI TB Demak
Dalam forum ini dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap capaian program TBC, baik untuk kategori sensitif obat maupun resisten obat.
Analisis kohort menjadi metode penting untuk melihat perkembangan pasien dari waktu ke waktu, sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan pengobatan maupun hambatan yang muncul.
Diskusi juga difokuskan pada berbagai kendala yang dihadapi dalam penanganan pasien TBC RO, di antaranya:
- Pasien mangkir atau tidak melanjutkan pengobatan (loss to follow up/LTFU)
- Kurangnya dukungan keluarga
- Hasil pemeriksaan lanjutan yang belum keluar
- Tantangan dalam pemantauan kepatuhan pasien
Selain itu, dilakukan pula pengisian form register pasien TBC RO secara detail guna meningkatkan akurasi data dan pelaporan program.
Kegiatan ini menjadi wadah koordinasi lintas fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan TBC resisten obat.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan penanganan pasien menjadi lebih terintegrasi, mulai dari deteksi, diagnosis, pengobatan hingga pemantauan hasil terapi.
Pelaksanaan QICA menjadi bagian dari komitmen Dinkesda Demak dalam mendukung target nasional eliminasi TBC.
Dengan penguatan analisis data, peningkatan kepatuhan pengobatan, serta kolaborasi lintas sektor, diharapkan angka keberhasilan pengobatan meningkat dan penularan dapat ditekan.
“Kunci pengendalian TBC ada pada kolaborasi dan kedisiplinan dalam pengobatan. Kita harus memastikan tidak ada pasien yang terlewat”, menjadi penegasan dalam forum tersebut. (Kesmas_Promkes PM)
