Perpustakaan Jadi Ruang Aman Remaja : Seminar “Remaja dan Pergaulan di Era Digital” Digelar di Demak
DEMAK — Sabtu, 26 Juli 2025 Dalam rangka memperkuat peran perpustakaan sebagai ruang edukatif dan inklusif bagi semua kalangan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Demak menyelenggarakan Seminar Remaja dan Pergaulan di Era Digital. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, yang menghadirkan perpustakaan sebagai ruang dialog, belajar, dan berbagi untuk isu-isu aktual yang dihadapi masyarakat.
Bertempat di Aula Perpustakaan Daerah, seminar ini dihadiri oleh puluhan pelajar SMP dan SMA, perwakilan guru BK, serta komunitas literasi remaja di Kabupaten Demak. Seminar ini bertujuan memberikan pemahaman kepada remaja mengenai pentingnya menjaga pergaulan yang sehat, aman, dan positif di tengah derasnya pengaruh media sosial dan lingkungan digital.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, yang menyampaikan bahwa perpustakaan tidak hanya menyediakan buku, tapi juga menjadi wadah pembinaan karakter dan mental generasi muda.
“Pergaulan remaja saat ini banyak dipengaruhi oleh dunia digital. Tugas kita bersama untuk memberikan ruang aman bagi mereka untuk bertanya, belajar, dan membangun pemahaman kritis atas pengaruh yang mereka hadapi setiap hari”, ujar salah satu pustakawan dalam pengantarnya.
Seminar menghadirkan dua narasumber utama, yaitu seorang psikolog remaja dan praktisi literasi digital. Dalam sesi pertama, peserta diajak memahami dinamika psikologis remaja, pentingnya mengenal diri, serta membangun relasi sehat dengan teman sebaya. Sementara pada sesi kedua, narasumber menjelaskan tentang dampak positif dan negatif media sosial, cara bijak berinteraksi di dunia digital, serta perlindungan terhadap diri dari cyberbullying dan konten negatif.
Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya seminar, aktif mengajukan pertanyaan, dan terlibat dalam diskusi kelompok. Banyak dari mereka mengungkapkan keresahan dan pengalaman pribadi dalam menghadapi tekanan sosial di media digital, yang kemudian dijawab dengan pendekatan edukatif dan empatik oleh narasumber.
Kegiatan ini juga diisi dengan simulasi refleksi diri, di mana peserta diajak menuliskan pesan untuk diri mereka lima tahun ke depan, sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya menjaga arah dan nilai dalam pergaulan.
Seminar ditutup dengan harapan agar perpustakaan dapat terus menjadi tempat tumbuh dan belajar bagi remaja, tidak hanya sebagai pusat informasi, tetapi juga ruang aktualisasi diri dan pembinaan karakter.
“Kami ingin perpustakaan hadir bukan hanya untuk membaca, tapi juga untuk mendengar dan menguatkan anak-anak muda kita”, tutup panitia dalam sambutan penutupnya. (perpusar)
