Sosialisasi Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bagi Guru PAUD

DEMAK – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak melalui Bidang Pembinaan PAUD dan PNF menyelenggarakan Kegiatan Sosialisasi Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bagi Guru PAUD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Demak, Rabu (29/06/2022) bertempat di Ruang Rapat Wakil Bupati Demak Lantai I. Kegiatan yang dihadiri sebanyak 65 orang tersebut dibuka oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Drs. Subkhan, MM. yang di damping oleh Kepala Bidang PAUD dan PNF, Dra. Afida Aspar, MM dan Kasi PAUD Sumini, SE. MM.

Dalam sambutannya Drs. Subkhan, M.M. menyampaikan tujuan dari sosialisasi ini adalah agar semua guru PAUD di Satuan Pendidikan Se-Kabupaten Demak  memiliki pengetahuan, keterampilan dan wawasan pendidikan khusus, serta menguasai konsep untuk penanganan secara dini terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) secara maksimal.

“Sesuai dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa sistem Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, meningkatkan mutu, relevansi dan efisiensi pengelolaan menejemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga diperlukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Begitu juga pada pendidikan khusus dan layanan khusus yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus yang berada di sekolah khusus maupun di sekolah”, tutur Subkhan.

Subkhan juga menambahkan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. karena itu negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan atau difabel.

“Selama ini anak-anak difabel disediakan fasilitas pendidikan khusus disesuaikan dengan derajat dan jenis difabelnya yang disebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). secara tidak disadari sistem pendidikan SLB telah membangun tembok eksklusivisme bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hal ini secara tidak langsung telah menghambat proses saling mengenal antara anak-anak difabel dengan anak-anak non-difabel. akibatnya dalam interaksi sosial di masyarakat kelompok difabel menjadi komunitas yang teralienasi / terasing dari dinamika sosial di masyarakat”, jelasnya.

Lebih lanjut Subkhan berharap agar masyarakat semakin sadar dan mengetahui tentang pentingnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, baik melalui pendidikan di sekolah luar biasa maupun pendidikan inklusi. Dia juga menginginkan layanan kepada anak berkebutuhan khusus dapat ditingkatkan dan dikembangkan, karena setiap anak wajib mendapatkan pendidikan yang sama. Tentunya akan diiringi dengan konsekuensi yang akan muncul yaitu pihak sekolah dan guru pendidik dituntut dapat melakukan perubahan dan tanpa mendiskriminasikan. (Dindikbud)