Tradisi Sedekah Syawalan Warga Kauman Bintoro

DEMAK - Syawalan merupakan tradisi masyarakat yang dilaksanakan  warga muslim untuk mengaktualisasikan rasa syukur setelah menjalankan puasa sunah enam hari setelah Idul Fitri. Dan rasa syukur tersebut ditandai dengan bentuk sedekah berupa makanan dan hasil bumi pada hari ke tujuh lebaran atau tanggal 7 Syawal.

"Tradisi sedekah setelah 7 hari Idul Fitri ini sebagai bentuk rasa syukur setelah melaksanakan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Dan acara selamatan sedekah ini merupakan tradisi dan budaya islami di Jawa. Tradisi seperti ini sering disebut masyarakat dengan bodho kupat atau syawalan", Kata H. Abdul Fatah Saat memberikan Tausiah di acara selamatan di kampung Kauman 2 Bintoro, Senin (9/5/22).

Warga kampung tersebut setiap rumah membawa makanan seperti kupat, lontong, lepet dan opor sebagaimana menu khas lebaran. Tidak sedikit pula yang membawa hasil bumi seperti buah pisang, jambu, jeruk dan lain sebagainya. Mereka berkumpul di teras mushola Al Islah dan bertukar menu makanan serta menikmatinya bersama.

Adriyanto, warga setempat juga menyampaikan bahwa selamatan sedekah seperti ini dilakukan 2 kali yakni setelah sholat Idul Fitri atau tanggal 1 Syawal dan tanggal 7 Syawal.

"Tradisi seperti ini sudah sejak lama ada, dan ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah atas kemenangan dalam menjalankan puasa Ramadlan dan puasa sunah di bulan Syawal", Ujar Adriyanto.

Syawalan bodho kupat ini tidak lepas dari sejarah syiar Islam oleh kanjeng  Sunan Kalijaga yang membudayakan 2 kali Bakda (Bodho) yakni bakda lebaran dan bakda kupat yang dilaksanakan setelah tujuh hari Idul Fitri.

Dalam filosofi Jawa, ketupat atau kupat memiliki makna Ngaku Lepat atau mengakui kesalahan. (komifo/rd)