Nyeri Haid Perlu Mendapat Perhatian dan Edukasi Sejak Dini
DEMAK - Nyeri saat menstruasi atau dismenore masih menjadi keluhan yang banyak dialami perempuan, terutama pada masa remaja. Kondisi ini umumnya mulai dirasakan sejak menstruasi pertama , yang kini banyak terjadi pada anak usia 11 hingga 12 tahun atau saat duduk di bangku kelas 5–6 sekolah dasar.
Dalam program gaspol (Gali Seputar Kesehatan Reproduksi) di RSKW, Kamis ( 30/7/26),praktisi kesehatan, Sukardjo menjelaskan, bahwa nyeri haid merupakan kondisi yang umumnya bersifat fisiologis. Rasa nyeri muncul akibat kontraksi otot rahim yang dipicu oleh peningkatan hormon prostaglandin.
”Kontraksi tersebut berfungsi membantu proses peluruhan dinding rahim setiap bulan, namun pada sebagian perempuan dapat menimbulkan kram hingga nyeri yang cukup hebat”, jelasnya
Lanjutnya, Setiap perempuan memiliki ambang nyeri yang berbeda. Ada yang hanya merasakan ketidaknyamanan ringan dan tetap dapat beraktivitas, tetapi ada pula yang mengalami nyeri berat hingga pucat, lemas, bahkan hampir pingsan.
”Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi psikologis, status gizi, daya tahan tubuh, serta kemampuan tubuh dalam mengelola rasa nyeri”, kata kardjo
Dalam kesempatan yang sama dokter Aina Fasnilda Putri menambahkan, selain faktor hormonal, nyeri menstruasi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi medis tertentu. Beberapa di antaranya adalah endometriosis, mioma, infeksi pada organ reproduksi, radang panggul, maupun kelainan anatomi panggul.
”Apabila nyeri haid berlangsung sangat berat, disertai gangguan siklus menstruasi atau keluhan lain yang tidak biasa, perempuan dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan”, terang Aina
Dirinya mengatakan, untuk mengurangi nyeri haid, dirinya menyarankan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan di rumah.
”Penanganan awal meliputi mengompres bagian bawah perut dengan air hangat, mencari posisi tubuh yang nyaman untuk membantu merelaksasi otot, serta melakukan aktivitas fisik ringan. Jika keluhan tidak membaik, penggunaan obat pereda nyeri dapat dipertimbangkan sesuai anjuran tenaga kesehatan”, kata Aina
Selain itu, lanjutnya, Pola makan juga dinilai memiliki pengaruh terhadap kesehatan reproduksi. Konsumsi makanan olahan berbahan dasar tepung gandum secara berlebihan, disarankan untuk dibatasi.
Sebaliknya, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi makanan bergizi seimbang dan sumber pangan lokal sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan reproduksi. (red-kmf/nin/apj)
